| Home |
| News |
| Links |
| FAQ |
| Contact Us |
| SIPIL Magazine |
| Majalah Soerat |
| Webmail |
| Today | 36 |
| Week | 301 |
| Month | 836 |
| Pengunjung | 123118 |
| (C) Fliesenstadt | |
| Semangat Kader Koperasi “ KARYA SARI”: Wujudkan Kemandirian Ekonomi Pedesaan |
|
|
|
| Written by Majalah Soerat | |
| Thursday, 29 October 2009 | |
|
Terhitung dua kali berjalan, Koperasi Komunitas Karya Sari Dusun Panggungsari Desa Kebonrejo Kecamatan Kepung Kabupaten Kediri melewati pertemuan rutin. Setelah koperasi tersebut terbentuk mandat selanjutnya adalah menjalankan kegiatan perkoperasian, yang diawali dengan menjalankan kegiatan simpan pinjam anggota.
Agenda tersebut telah dirancang dalam sebuah musyawarah yang sederhana untuk menghasilkan kesepakatan bersama. Mulai dari menentukan besaran angka simpanan wajib (Simwa), simpanan pokok (Simpo) maupun simpanan sukarela (Simla), bahkan tanggal pelaksanaan setiap pertemuan rutin juga telah disepakati secara bersama-sama. Seperti agenda pertemuan pada hari Selasa tanggal 1 September 2009, dimana setiap awal bulan telah menjadi agenda rutin pertemuan anggota Koperasi Karya Sari. Hari itu pukul 14:00 kegiatan dilaksanakan di balai Dusun Panggungsari, nampak beberapa orang cukup semangat dan tepat waktu berkumpul. Meski beberapa anggota lainnya masih tampak belum datang, mereka menunggu dengan sabar sambil bersenda gurau antar teman yang sudah akrab. Ada juga yang masih canggung dan malu-malu dalam mengikuti kegiatan tersebut. Waktu terus berjalan menuju sore maka diputuskan sambil menunggu kedatangan anggota secara keseluruhan mereka melakukan evaluasi bersama dengan bincang-bincang perihal catatan pembukuan simpanan. Keseriusan para anggota menjadikan suasana menjadi hangat dalam pertemuan tersebut. Maklum kelompok ini relatif baru dalam memahami aturan pembukuan. Masih terlihat keributan kecil untuk mencari selisih angka. Selanjutnya dirasa sudah cukup lengkap anggota yang hadir kegiatan dimulai dengan pengumpulan simpanan wajib, kemudian dilakukan penghitungan dan kemudian masukkan dalam klasifikasi dan diumumkan kepada seluruh anggota yang hadir. “Bagi para anggota yang menginginkan pinjaman, monggo mendaftar,” kata pengurus saat itu. Namun kesempatan pinjaman tersebut agaknya memang terbatas karena pengambilan dana sesuai dengan modal yang ada. Bagi para anggota kesempatan ini adalah waktu yang tepat untuk meminjam. Pinjaman bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan menjelang lebaran yang kian dekat, otomatis beberapa kebutuhan pokok sangatlah di perlukan. Dalam sejarah kegiatan masyarakat Dusun Panggungsari yang berkaitan dengan simpan pinjam sebenarnya sudah tidak asing, tetapi yang membedakan adalah orientasi, misi dan visi sebuah wadah yang mengatur keuangan masyarakat. Sehingga mampu betul dirasakan oleh anggota mulai dari proses pembentukan wadah sampai penentuan besar kecilnya Simpo, Simwa, maupun Simla. Bahkan urusan terkecil yakni bagaimana menentukan hari dan jam pertemuannya, semua dilaksanakan secara demokratis. Upaya ini untuk menghindarkan dari pola monopoli, misalnya melakukan perangkapan simpanan. Hal demikian tersebut tidak akan terjadi karena simpan pinjam komunitas ini selalu melalui aturan musyawarah terbuka dalam setiap pengambilan keputusan. Pengalaman buruk masa lalu pada kegiatan simpan pinjam kelompok memang pernah terjadi, beberapa alasan yang mengakibatkan kegiatan bubar dan menyisakan tanggungan keuangan anggota, dan bahkan ada yang tidak kembali. Kejadian ini selalu menghantui para anggota pada awalnya dan sempat terjadi kekhawatiran anggota. Jangan-jangan masalah lama akan terulang kembali tetapi setelah melalui proses yang telah berjalan mereka percaya dan semangat dalam melakukan upaya pengelolaan simpan pinjam komunitas tersebut. Seperti yang pernah disampaikan salah satu anggota koperasi Karya Sari yakni Yulianto yang juga salah satu anggota BPD di wilayah tersebut. Bahwa sering kali kegiatan seperti ini didirikan tetapi beberapa kali mengalami kegagalan dan ujung-ujungnya mewariskan permasalahan, bahkan sampai mengakibatkan hubungan persaudaraan menjadi renggang hanya karena masalah tersebut. Akan tetapi melihat pola manajemen baru yang diterapkan oleh Karya Sari, bapak muda yang memiliki dua orang putra ini optimis bahwa kegiatan simpan pinjam akan membawa kebaikan dan mendatangkan manfaat bagi masyarakat Dusun Panggungsari. “Minimal membangun rasa kepercayaan terlebih dahulu, karena jika rasa kepercayaan telah kembali terbangun, maka upaya mengembangkan ketingkat yang lebih besar secara bersama-sama pasti akan sampai pada tujuan,” katanya singkat. Sisi lain dalam kegiatan ini juga didukung oleh semangat para generasi muda, seperti Gatot, Jupri, Jikin dan beberapa pemuda-pemuda lain yang tampak semangat dalam mendukung kegiatan tersebut. Dari jiwa dan semangat para pemuda inilah menjadikan ruh perjuangan kelompok baru ini dalam mewujudkan harapan yang telah terkikis mampu dibangun kembali secara perlahan. Meskipun secara geografis Dusun Panggung adalah wilayah perbatasan yang cukup jauh dengan akses kota, tetapi hal tersebut malah dijadikan sebuah semangat dalam memajukan perubahan desa. Melalui pengelolaan keuangan yang ada di desa maka para pemuda nantinya tak perlu lagi bersusah payah mencari permodalan ke kota dan bank-bank yang berbunga tinggi. “Kini dengan koperasi komunitas, segala bentuk persoalan permodalan akan teratasi dengan mudah, syukur nanti bisa membuka lapangan pekerjaan baru di dusun dan desanya sendiri. Apabila kita telah memiliki lembaga keuangan yang kuat, tinggal bagaimana mengembangkan potensi yang ada untuk memenuhi kebutuhan hidup, tidak usah jauh-jauh keluar negeri bila ingin memiliki modal untuk usaha atau kegiatan yang bersifat memperkuat sisi perekonomian pedesaan,” tambah Yulius. Hal ini dibenarkan oleh Munasir Huda selaku Sekjen Serikat Rakyat Kediri Berdaulat (SRKB) yang merupakan organisasi aliansi di Kabupaten Kediri, bahwa kelompok-kelompok kecil di desa yang berbasis ekonomi seperti koperasi, harus diperbanyak sebagai upaya menjawab kebutuhan-kebutuhan masyarakat khususnya anggota. Selain itu juga untuk meminimalisir adanya rentenir-rentenir masuk desa,” ujarnya menandaskan. (Azis Alkaf) |
| < Prev | Next > |
|---|

|
Alha-raka use village women cooperatives as a media to promote socio-economic development as well as to enhance their understanding about democracy and good governance. It is expected that these activities will be able to influence the development of economic activity initiatives, and to improve women’s capacity to get involved in the local development processes. Further... it's as long as the experience we have, we're sure that to improve and promote poeple (the poor) political participation we have to begin in the lower level of the state administration.
|
|
| Read more... |
| < | September 2010 | > |
| S | M | T | W | T | F | S |
| 29 | 30 | 31 | 1 | 2 | 3 | 4 |
| 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 |
| 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 |
| 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 |
| 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 1 | 2 |