| Home |
| News |
| Links |
| FAQ |
| Contact Us |
| SIPIL Magazine |
| Majalah Soerat |
| Webmail |
| Today | 32 |
| Week | 781 |
| Month | 467 |
| Pengunjung | 122749 |
| (C) Fliesenstadt | |
| Dibutuhkan, Pemberdayaan Koperasi Wanita di Desa |
|
|
|
| Written by Administrator | |
| Tuesday, 06 April 2010 | |
|
Menangkis Ketergantungan kepada Rentenir Senin, 5 April 2010 Kediri, Kompas - Kaum ibu di Kabupaten Kediri memerlukan pembinaan dan pemberdayaan agar bisa mendirikan koperasi wanita di desa mereka. Langkah ini penting untuk menangkis ketergantungan mereka kepada rentenir dan menjadi solusi masalah ekonomi keluarga. Kebanyakan ibu telah memiliki modal perkumpulan arisan untuk mendirikan koperasi. Namun, hal itu belum cukup. Mereka memerlukan pemberdayaan supaya bisa mengelola koperasi secara profesional. Hal itu mengemuka dalam acara Belajar Bersama Antar Kelompok Koperasi Perempuan Mitra Perkumpulan Lembaga Swadaya Masyarakat Al Haraka, Minggu (4/4) di Gedung Dekopinda, Kabupaten Kediri. Dalam acara tersebut hadir 13 kelompok rintisan koperasi wanita dari total 20 kelompok di seluruh Kabupaten Kediri. Pada acara tersebut, utusan dari Dinas Koperasi Kabupaten Kediri justru tidak hadir dan diwakili Kesbanglinmas. Pemberdayaan Koordinator Program Al Haraka Zaini mengatakan, pemberdayaan koperasi wanita di Kediri mendesak. Alasannya, dampak masalah ekonomi rumah tangga sangat kompleks, bahkan bisa mengarah pada tindakan kriminalitas. "Dengan adanya pemberdayaan, otomatis tumbuh lembaga keuangan mikro semacam koperasi berbasiskan komunitas tertentu," ujarnya. Koperasi semacam ini lebih mengena ketimbang koperasi kelurahan bentukan Dinas Koperasi yang berorientasi pada program semata. Biasanya koperasi semacam ini cepat mati karena tidak berangkat dari kebutuhan riil masyarakat bawah. Yayuk, Ketua Kelompok Rintisan Koperasi dari Desa Joho, Kecamatan Semen, mengatakan, kendala utama yang dihadapi adalah terbatasnya kemampuan sumber daya manusia. Rata-rata pengurus koperasi adalah ibu rumah tangga dengan pendidikan rendah. Selain itu, mereka juga belum memiliki pengalaman berorganisasi. Rianik, pengurus kelompok rintisan koperasi dari Kecamatan Banyakan, menjelaskan, kelompoknya sudah sukses mengurus koperasi simpan pinjam kemudian berkeinginan memperluas usaha, seperti pembuatan keripik buah, untuk meningkatkan ekonomi anggotanya. Namun, keinginan itu selalu terbentur pengetahuan terbatas. Kendala lain, proses menuju legalitas. Rata-rata pengurus kelompok rintisan koperasi ini tidak memiliki pengetahuan cukup untuk mengurus badan hukum. Pemerintah daerah bukannya membantu, melainkan malah menakut-nakuti dengan alasan koperasi yang dikelola ilegal. (NIK) |
| < Prev | Next > |
|---|

|
Alha-raka use village women cooperatives as a media to promote socio-economic development as well as to enhance their understanding about democracy and good governance. It is expected that these activities will be able to influence the development of economic activity initiatives, and to improve women’s capacity to get involved in the local development processes. Further... it's as long as the experience we have, we're sure that to improve and promote poeple (the poor) political participation we have to begin in the lower level of the state administration.
|
|
| Read more... |
| < | September 2010 | > |
| S | M | T | W | T | F | S |
| 29 | 30 | 31 | 1 | 2 | 3 | 4 |
| 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 |
| 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 |
| 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 |
| 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 1 | 2 |