Pangkalan arrow Tentang Kami
Narrow screen resolution Wide screen resolution default color green color orange color
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Google Search



Visitors

Today40
Week209
Month744
Pengunjung123026

(C) Fliesenstadt

Login Form






Lost Password?
Koperasi Mitra Annisa: Berganti Nama dan Membenahi Aturan PDF Print E-mail
Monday, 08 September 2008

Berdirinya Koperasi Mitra Annisa pada pertengahan tahun 2008 lalu, di Desa Manyaran Kecamatan Banyakan Kediri, semula bernama Koperasi Sumber Rezeki yang beraktifitas sejak tahun 2006. Tujuannya untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi anggotanya.

Latar belakang berubahnya nama tersebut, dimaksudkan agar masyarakat luas yang aktif mengikuti perkembangan koperasi tidak kebingungan dalam mengakses informasi. Pasalnya selama ini nama Sumber Rejeki dipakai oleh beberapa kelompok koperasi yang juga menjadi anggota SRKB (Serikat Rakyat Kediri Berdaulat). Selain itu, pemakaian nama menurut ketua koperasi Mitra Annisa, Nurul Fadlilah, mengatakan bahwa akan berpengaruh terhadap pemaknaan sehari-hari. Karena nama tersebut memiliki arti tersendiri bagi kelompok perempuan di Manyaran. ”Mitra disini kami artikan sebagai teman, sedangkan Annisa bermakna perempuan. Maksudnya berdirinya koperasi yang diprakarsai oleh ibu-ibu diharapkan mampu menjadi teman bagi semua orang dalam mengembangkan usaha. Begitupun dalam keluarga masing-masing anggota, mampu meringankan beban para suami ketika kesulitan dalam hal permodalan,” jelas ibu dua anak ini semangat.

Perkembangan koperasi Annisa sebagian besar juga berasal dari anggota. Setiap bulan mereka sepakat untuk bertemu, untuk memperbincangkan berbagai persoalan. Dari rutinitas para anggota yang didominasi oleh ibu-ibu menarik perhatian kalangan kaum hawa lainnya. Beberapa diantara tetangga yang tidak tahu tentunya penasaran, hampir sebagian besar pertanyaan mereka sama ”Lho ada apa kok tiap jam 3 sore ibu-ibu berduyun-duyun ke balai Desa Manyaran”, tiru bu Maspiah, dari para tetangganya. Dirinya kemudian menjelaskan secara detail, bahwa pertemuan rutin setiap bulan tersebut merupakan salah satu kegiatan koperasi.

Informasi dari mulut ke mulut inilah yang mendorong percepatan penambahan anggota tiap tahunnya. Awal tahun 2006, saat itu masih bernama koperasi Sumber Rizki dengan jumlah anggota sekitar 20 orang, di tahun 2007 total anggota sudah mencapai 37 orang. Dan pada akhir bulan Agustus 2008, tercatat sebanyak 47 orang yang sudah terdaftar. Banyaknya anggota baru yang hadir, menunjukkan bahwa keberadaan koperasi Mitra Anisa' semakin diterima dan dibutuhkan olah warga Manyaran. Karena kebutuhan yang relatif banyak, maka membutuhkan suntikan modal tambahan dari pihak lain.

Sebelum acara serah terima dimulai, terlebih dahulu Nurul Fadlilah memberikan gambaran perkembangan koperasi. Untuk membuat anggota selalu datang ke Balai Desa, tempat dilaksanakannya kegiatan berkoperasi, pengurus mengusulkan aktifitas anggota ditambah dengan arisan uang Rp 3 ribu. Usulan ini disetujui anggota pada saat RAT 2007. Dan pada waktu itu juga seluruh anggota sepakat untuk melakukan penambahan Simpo dan Simwa. Untuk simpanan pokok bertambah Rp 5 ribu menjadi Rp 15 ribu, sedangkan simpanan wajibnya dari Rp 2 ribu menjadi Rp 3 ribu. “Berbicara tanggung jawab, anggota koperasi Mitra Anisa' sudah cukup bertanggung jawab. Dalam arti mereka telah berpengalaman cukup lama di Koperasi Sumber Rejeki salah satunya tidak melalaikan tugasnya dalam membayar simpanan wajib maupun angsuran pinjaman. Hanya terkadang karena kesibukan di rumah, banyak dari ibu-ibu yang memilih titip saja. Dengan adanya arisan ini diharapkan akan lebih banyak anggota yang datang,” kata Nurul Fadilah, Ketua Koperasi Mitra Anisa' berharap.  

Ketegasan Aturan Itu Penting

Tahun lalu, Sisa Hasil Usaha  (SHU) anggota dibagi sama rata. Alasannya, agar anggota yang kurang aktif bisa kembali bergabung dan merasa memiliki koperasi. Namun untuk tahun ini akan dibagi menurut aktifitas transaksi masing-masing anggota. Selain itu, akan ada penambahan biaya pengurus terhitung selama setahun jabatannya. Hal ini sesuai dengan undang-undang perkoperasian. “Tahun lalu pengurus rela tidak mendapat apa-apa, karena kami semua baru belajar. Dan kami menganggap untuk membesarkan organisasi membutuhkan pengorbanan, hingga pada tahun ini ada rencana untuk memberikan hak pengurus, sebagai bentuk ucapan terima kasih” ucap Nurul.

Perubahan kebijakan tersebut, juga diperoleh dari pengalaman beberapa bulan lalu ketika pengurus Mitra Anisa belajar tentang keadministrasian bersama kelompok SRKB. Pembenahan-pembenahan aturan sudah mulai dilakukan, hal ini sebagai upaya perbaikan pengelolaan agar lebih tegas lagi. Dan pada pertemuan rutin bulan Juli 2008 yang lalu, seluruh anggota kembali berkumpul untuk menyaksikan penyerahan pinjaman dari koperasi Mandiri yang diwakili oleh Ida farida Santi kepada koperasi Mitra Anisa.

”Tertibnya administrasi, salah satu syarat mutlak dalam melakukan pinjaman di koperasi Mandiri. Selain itu, kekompakan anggota juga menjadi penilaian tersendiri. Ini juga menjadi pertimbangan, karena semakin lancar simpan pinjam maka semakin banyak pula anggota yang melakukan transaksi,” terang Ida selaku bendahara. Ia juga menjelaskan bahwa, permodalan dapat dilakukan secara mandiri dengan memperbesar simpo ataupun simwa. Bahkan yang terpenting adalah simla (simpanan suka rela) dalam bentuk tabungan, karena jasa dari tabungan akan terkumpul dan dibagikan pula pada saat SHU. Saat ini Koperasi Mitra Anisa melakukan pinjaman sebesar Rp 3,5 juta. Dengan jaminan 10 persen yakni Rp 350 ribu,- dan boleh diangsur dua kali selama satu tahun. Dimulai 6 bulan pertama dan 6 bulan ke dua baru disertakan jasa sebesar 5 persen.

”Selama ini perputaran uang hanya mencapai Rp 800 ribu tiap bulannya. Padahal peminjam melebihi 5 orang, dengan masing-masing pinjaman sebesar Rp 200 ribu. Untuk itu kami masih membutuhkan bantuan pihak lain, maka saya atas nama perwakilan dari ibu-ibu akan mendandatangani kontrak tertulis yang disaksikan oleh semua anggota. Baru setelah itu, bagi ibu-ibu yang menginginkan untuk meminjam silakan berhubungan dengan bendahara mbak Tutik,” kata Nurul mempersilakan.

Ragam Kegiatan Ibu-Ibu

Semangat dari beberapa perempuan yang mengawali berdirinya koperasi atas gagasan Kelompok Tani Perempuan Labet Rukun ini memang patut diacungi jempol. Mereka tidak mudah menyerah meski anggotanya kurang aktif. Sebagian besar anggota memiliki kegiatan home industri kecil di rumah masing-masing, seperti Bu Aminah, Ibu Sumarni dan Ibu Maryam. Setiap harinya mereka sibuk membuat tompo yang terbuat dari bambu. Dalam satu hari bisa menghasilkan 5 tompo kecil seharga Rp 1.500 dan 4 tompo besar Rp 5 ribu. ”Dulu kami pernah belajar membuat berbagai model anyaman yang terbuat dari bambu selain tompo, ada tempat koran, dan tisu. Namun yang telaten saat itu mbak-mbak, sedangkan ibu-ibu kurang jeli karena anyaman lebih kecil. Tapi lambat laun bubar karena banyak yang masih sekolah. Sementara ibu-ibu tetap ingin membesarkan produksi tomponya meskipun terkendala tambahan modal. Oleh karena itu saya juga sangat senang ikut bergabung dengan koperasi. Saat ini kami hanya memproduksi berdasarkan pesanan tompo saja, selain itu kadang pemasaran diambil oleh lijo dan tengkulak,” jelas bu Aminah.

Lain halnya dengan Bu Maspiah, ia memiliki usaha emping garut dan mlinjo di rumahnya. Bahan bakunya berasal para tetangganya di Dusun Santren Manyaran. Biasanya untuk mendapatkan bahan baku ini bu Maspiah tanpa memberi uang, namun hanya kesepakatan paro'an (bagi hasil) usai menjadi emping baru diberikan si empunya bahan. Sehari-hari ia dibantu  ke 3 putrinya,  hingga ia mampu membuat sampai 2 kilo. ”Proses yang paling sulit biasanya pada waktu menyeti (memipihkan) 3 kilo garut, ketika kering menjadi 1 kilo. Kalau tidak ada yang bantu yaa paling hanya seperempat kilo saja. Mungkin nanti ada kelompok dari SRKB yang mempunyai bahan baku garut, mohon menghubungi saya,” pintanya.  

Sementara Ibu Nurul dengan Bu Siti Khosiyah hampir mempunyai kemiripan usaha. Keduanya memiliki usaha ternak ayam. ”Kalau bu Nurul usahanya lebih besar, sedangkan saya setelah terserang wabah penyakit telo, sebanyak 72 ayam mati. Kini yang ada tinggal babon ayam 12 ekor dan mentok 7 ekor. Kalau cepat perkembangannya dalam 4 bulan, rata-rata sudah bertelur. Kalaupun kehabisan pakan saya bisa meminjam uang di koperasi” terang Khosiyah.

Berbeda dengan usaha ibu Tutik Lely Nur Santi, perempuan berumur 40 tahun ini sudah memiliki bakat ketrampilan menjahit sejak duduk di bangku SMP tahun 1980. Awalnya hanya membantu ibunda, kemudian pada tahun 1986 lulus SMA telah mampu menjahit sendiri dengan berbagai model. Dirinya menjadi bendahara koperasi berbekal ilmu akuntansi dari bangku SMA ”Kesadaran ibu-ibu perlu ditingkatkan lagi, meski jarang yang terkena denda. Sebagian mereka yang anggota pasif selalu telat dalam melakukan pembayaran maka harus membayar denda 2 persen perbulannya.  Biasanya ada yang tidak mau mengangsur, dan langsung membayar 3 bulan jatuh tempo, ini menyulitkan administrasi. Untuk itu ke depan semua anggota harus tertib administrasi agar Koperasi Mitra Anisa lebih berkembang lagi,” harap ibu Tutik. (Diana Kholidah, Lilik Nurhayati)
Last Updated ( Monday, 08 September 2008 )
 
< Prev   Next >
Radio SBL Ngepeh.jpg

POJOK

Sample Image

Alha-raka use village women cooperatives as a media to promote socio-economic development as well as to enhance their understanding about democracy and good governance.  It is expected that these activities will be able to influence the development of economic activity initiatives, and to improve women’s capacity to get involved in the local development processes.

Further... it's as long as the experience we have, we're sure that to improve and promote poeple (the poor) political participation we have to begin in the lower level of the state administration.  

 

Read more...
 

Events Calendar

< September 2010 >
S M T W T F S
29 30 31 1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 1 2
ShoutMix chat widgetLocations of visitors to this page